Pengalaman pertama jadi surveyor

Beberapa hari yang lalu, nggak sengaja aku n temen-temen labku ditawari dosenku untuk menjadi surveyor. Sebenernya aku menghadap dosenku itu untuk urusan lainnya. Tapi tiba-tiba dosenku itu menawari anak-anak labku untuk jadi surveyor, max 3 orang aja, plus ada upahnya juga, dah gitu itungannya per responden pula. Whuaa menggiurkan…

*untuk mahasiswa seperti aku ini yang belum ada pekerjaan, jumlah nominal segitu terbilang banyak, cukup untuk uang saku 1 semester.

Kemudian aku ngajak 2 temen labku untuk jadi surveyor juga. Mereka semua setuju, dan akhirnya kita nyebar ke segala penjuru Surabaya. Tapi aku survey-nya Cuma di daerah deket-deket aja, yang jarang ada polisi soalnya aku belum punya SIM.

Aku pikir jadi surveyor ini Cuma tinggal ngasih lembar kuisioner itu ke para respondennya, dan pasti semua respondennya pada mau ngisi, lha wong Cuma ngisi aja kok. Eh ternyata oh ternyata,,,beberapa kali aku ditolak respondennya untuk ngisi itu, ada yang nolak secara halus dengan raut muka yang menyenangkan, dan ada juga yang nolak lumayan halus tapi dengan raut muka yang nyebelin, ada yang nolak mentah-mentah dengan raut muka yang mentah juga. Dalam hatiku, duh orang ini rek,,gak pernah jadi surveyor sih jadi sok jual mahal gtu padahal dia gak terlalu sibuk juga.

Aku juga mikir, berarti klo jadi surveyor itu lumayan berat juga. Survey harus nyebar, gak boleh di 1 tempat aja. Harus siap nerima penolakan dari responden. Upah kecil (ini untuk orang yng profesinya bener-bener surveyor). Klo ada responden yang ngisinya salah ato nggak ngisi beberapa pertanyaan, itu bikin gak valid (yah…klo pengen valid sih,kita rekayasa aja jawabannya hohoho). . . Klo gak ada surveyor, kita tidak bisa mendengar suara konsumen atau masyarakat yang mayoritas. Gak ada surveyor, banyak perusahaan yang gak bisa mengembangkan produk sesuai keinginan masyarakat.

Makanya..kalo ada surveyor minta kita untuk jadi responden, harus ditanggapi ya. Kasian mereka.

Beberapa hari yang lalu, nggak sengaja aku n temen-temen labku ditawari dosenku untuk menjadi surveyor. Sebenernya aku menghadap dosenku itu untuk urusan lainnya. Tapi tiba-tiba dosenku itu menawari anak-anak labku untuk jadi surveyor, max 3 orang aja, plus ada upahnya juga, dah gitu itungannya per responden pula. Whuaa menggiurkan…

*untuk mahasiswa seperti aku ini yang belum ada pekerjaan, jumlah nominal segitu terbilang banyak, cukup untuk uang saku 1 semester.

Kemudian aku ngajak 2 temen labku untuk jadi surveyor juga. Mereka semua setuju, dan akhirnya kita nyebar ke segala penjuru Surabaya. Tapi aku survey-nya Cuma di daerah deket-deket aja, yang jarang ada polisi soalnya aku belum punya SIM.

Aku pikir jadi surveyor ini Cuma tinggal ngasih lembar kuisioner itu ke para respondennya, dan pasti semua respondennya pada mau ngisi, lha wong Cuma ngisi aja kok. Eh ternyata oh ternyata,,,beberapa kali aku ditolak respondennya untuk ngisi itu, ada yang nolak secara halus dengan raut muka yang menyenangkan, dan ada juga yang nolak lumayan halus tapi dengan raut muka yang nyebelin, ada yang nolak mentah-mentah dengan raut muka yang mentah juga. Dalam hatiku, duh orang ini rek,,gak pernah jadi surveyor sih jadi sok jual mahal gtu padahal dia gak terlalu sibuk juga.

Aku juga mikir, berarti klo jadi surveyor itu lumayan berat juga. Survey harus nyebar, gak boleh di 1 tempat aja. Harus siap nerima penolakan dari responden. Upah kecil (ini untuk orang yng profesinya bener-bener surveyor). Klo ada responden yang ngisinya salah ato nggak ngisi beberapa pertanyaan, itu bikin gak valid (yah…klo pengen valid sih,kita rekayasa aja jawabannya hohoho). . . Klo gak ada surveyor, kita tidak bisa mendengar suara konsumen atau masyarakat yang mayoritas. Gak ada surveyor, banyak perusahaan yang gak bisa mengembangkan produk sesuai keinginan masyarakat.

Makanya..kalo ada surveyor minta kita untuk jadi responden, harus ditanggapi ya. …

Say your words